Friday, July 18, 2014

 “Tidak pernah sekalipun terpikirkan oleh saya untuk mendirikan sekolah atau pesantren ketika masih gadis dulu”

Namanya Nurul Hikmah, perempuan yang menjalankan sebuah sekolah tahfiz, Bait Qur’any (BQ). Walaupun baru berdiri beberapa tahun yang lalu, BQ mampu mencetak puluhan penghapal Qur’an dan segudang prestasi. Bagaimana bisa?

Mari kita mundur ke tahun 2001, ketika anak pertama dari pasangan Nurul Hikmah dan Nurul Habiburrahman lahir.

Awal

Tahun 2001, Ibadurrahman (Ibad) lahir ke dunia dan pada tahun itu pula bu Nurul mengambil program Master Pendidikan Islam di UIN Syarif.

Ibad lahir dalam suasana belajar ibunya, tumbuh di antara buku-buku bacaan sang Ibu. Sesuai dengan kesepakatan, sang ibu membagikan ilmu pada anaknya sejak dini. Dia merawat Ibad dengan penuh perencanaan, layaknya mendidik seorang santri. Setiap menyusui dibacakannya Qur’an. Setiap berada di dekat Ibad, Bu Nurul selalu membacakan Qur’an. Sampai suatu hari ketika Ibad hendak disapih, ibad dengan pengucapan yang tidak jelas dan cadel melantunkan berbagai surat pendek di juz 30.

“Abang, dia banyak kali yang hapal…” Seru sang ibu ke suaminya, kaget dan bahagia karena ini bukan sesuatu yang mereka targetkan sama sekali.

Bu Nurul pun melanjutkan pengasuhan dan program yang sudah dilakukannya. Luar biasa, dengan caranya mengajar ternyata anaknya dengan mudah memahami dan mengingat.

Berkembang

“Saya gak yakin yang bisa begini cuma Ibad. Pasti semua anak bisa asal ibunya tahu caranya. Itu keyakinan saya pada saat itu” Kata Bu Nurul.

Mulailah ia mengajak tetangga-tetangganya untuk ngaji. Ibu-ibu muda di sekitar rumahnya paling males ikut majelis ta’lim karena suka dimarahi jika anak yang mereka bawa ribut dan menangis.

“Yaudah, kita buat majelis ta’lim sendiri yuk. Temanya pendidikan anak.” Ajak bunda Ibad saat itu. Alhamdulillah, ibu-ibu antusias untuk ikutan. Apalagi, ibu-ibu yang menjadi tetangganya sudah melihat sendiri kualitas anak Bu Nurul. Bu Nurul sudah menjadi tauladan sebelum berdakwah. Ternyata ibu-ibu di Majelis Ta’limnya makin pandai dalam mendidik anak, otomatis yang terpikirkan selanjutnya adalah mendirikan PAUD dengan ibu-ibu ini menjadi gurunya. Nekat memang, karena Bu Nurul bukan orang yang punya uang banyak, dia cuma bermodalkan ilmu yang banyak.

Tahun 2005, bu Nurul meminjam aula musholla dekat rumah. Bersama ibu-ibu yang lain dia menyebarkan flyer PAUD gratis. Yap, GRATIS… Niatnya memang bukan bisnis, tapi keinginan besar supaya lebih banyak lagi anak yang terdidik dengan Qur’an. Uang oprasionalnya berasal dari suami bu Nurul dan infaq sukarela guru-guru.

Aula musholla itu memang tempat serbaguna, selain untuk PAUD tempat tersebut juga suka dipakai warga untuk main ping pong. Kadang mereka masih main ping pong ketika murid sudah banyak yang datang. Tidak nyaman tentu saja. Mereka harus pindah.

Allah Maha Mengetahui. Pada titik ini teman-teman ngaji Bu Nurul mulai memberikan support yang lebih besar. Ada yang menawarkan selasar rumah kosannya, ditambah dua aktivis yang belum menikah dan handal untuk membantu proses belajar mengajar.

Apa yang terjadi setelah PAUD ini berjalan? Masyaallah, Ibad – Ibad lain bermunculan. Hipotesa bu Nurul terbukti, bahwa setiap anak pasti bisa diajari al-Qur’an dan dididik menjadi anak shaleh, anak yang taat pada Allah.

“Ini tidak sulit, asal tahu caranya. Ini lebih ke perkara mau atau tidak mau” ungkap Ibu yang juga dosen ini.

Pengalamannya ini akhirnya ia tuliskan, ia rumuskan menjadi desain pendidikan anak. Teman-temannya ternyata merasa tulisan itu sangat bermanfaat dan menawarkan untuk menyusunnya menjadi buku, yang lain menawarkan tenaganya untuk mendesain sampul. Lalu jadilah buku indie pertama bu Nurul “Home Learning”.

Dari bisik-bisik, mulut ke mulut, metode Bu Nurul mulai tersebar. Bu Nurul mulai diundang ke berbagai acara parenting. Dari situ Bu Nurul semakin tersadar bahwa ilmu ini sangat bermanfaat untuk umat.

Seperti efek domino, undangan yang satu melahirkan undangan di tempat lain. Akhirnya bu Nurul bisa membuat workshop sendiri untuk pertama kalinya pada tahun 2008 yang berjudul: “Workshop Bait Qur’aniy, Menghapal Sejak Usia 0 tahun”. Workshop yang diadakan di UIN ini dihadiri lebih dari 500 orang, padahal Bu Nurul bukan orang yang punya popularitas di Tangsel maupun di Jakarta.

Ternyata, salah satu peserta dari workshop tersebut adalah penyelenggara Islamic Book Fair. Ia menawarkan Bu Nurul untuk menjadi salah satu pengisi di panggung IBF tahun 2008. Saat itu salah satu anak yang tampil di panggung adalah Dzawata Afnan, anak kedua bu Nurul, juara 2 Hafiz Indonesia 2013 yang masih berumur 2,5 tahun tapi sudah hapal juz 30. Bukan hanya hapal, tapi juga bisa menjawab arti kata-kata dalam al-Qur’an.

Bait Qur’aniy

Karena kesuksesan workshop Bait Qur'aniy, Bu Nurul akhirnya memakai nama ini sebagai nama sekolah miliknya. Memasuki tahun ajaran 2009 murid PAUD dan TK bu Nurul sudah berjumlah 50 orang, dan selasar kosan terancam tidak bisa dipakai lagi. Dengan uang SPP Rp. 5000 per bulan mereka tidak bisa mendapatkan tempat lain.

Allah ternyata tidak membiarkan anak-anak yang menghapal Kitab-Nya terhenti. Tak lama, datang seorang perempuan dari Aceh, ibu ini mengutarakan keinginannya mendirikan TK serupa. Bu Nurul dan suaminya dibawa ke Banda Aceh untuk membantu proses pendiriannya. Singkat cerita berdirilah Bait Qur’aniy di Banda Aceh. Tanpa diminta ibu ini lah yang membiayai biaya kontrakan untuk satu tahun kedepan. Alhamdulillah, tahun ajaran 2009 pun aman.
Daftar prestasi sekolah BQ 3 tahun terakhir. Banyak banget!!!

Bait Qur’any Hari Ini

Dari rentang 2009-2014 banyak hal yang terjadi, jalan berliku dan berduri untuk berbagi dan berdakwah. Tapi biarlah detail kisahnya saya simpan untuk lain waktu. Semoga teman sudi mampir lagi ke blog saya.

Sekarang, BQ memiliki 125 murid TK, 138 murid MI, 43 murid MTS dan diajar oleh 50 orang guru.  75% muridnya dari kalangan dhuafa. Bu Nurul sendiri sudah tidak mengajar murid sekolahnya lagi, dia fokus menyusun kurikulum, mendidik guru, juga mendidik orang tua murid. Beliau juga masih aktif di organisasi dakwah, menjadi dosen dan mahasiswa doktor pendidikan Islam. Masyaallah, perempuan yang luar biasa.

Bermula dari mendidik seorang anak, sekarang jadi ibu dari ratusan anak.

Bu Nurul, Awa dan Saya

Produk-produk BQ


Setiap anak punya haq untuk mengetahui hukum-hukum Allah. Tapi tidak semua orang bisa mengajarkan anak hal itu. Sementara saya kan tahu nih, saya bisa mendidik anak saya untuk mengetahui aturan Allah. Ini yang jadi motivasi saya.” – Nurul Hikmah –

Pesan Sponsor:

Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.



5 comments

Aku sering nonton Hafiz Indonesia. Very inspiring. Baru tw juga klo pendiri Bait Qur'ani itu Bu Nurul

REPLY

Setuju, program ini inspiring banget. Bu Nurul di sini jadi pembina karantina peserta, bersama suaminya.

REPLY

Assalamu'alaikum...
Terima kasih sudah berbagi cerita inspiratif ini, ya!
Good luck! ^_^
Emak Gaoel

REPLY

Sist... Kl mau dpt produk BQ, gmn caranya?

REPLY

Sist, kl mau dapat produk2 BQ, gmn caranya

REPLY

Cerita-cerita Frida Designed by Frida Nurulia