Wednesday, July 6, 2016

Ria Miranda Seashore Collection

Lihat deh gambar di bawah ini: 

Ubur-ubur
sumber gambar: Suara Merdeka
Indah. Cantik. Stunning. Itulah ubur-ubur laut. Tubuhnya yang transparan berbentuk payung berumbai memang cantik sekali. Tidak heran kalau Ria Miranda menjadikan makhluk yang satu ini sebagai motif dari koleksi terbarunya.

Friday, October 30, 2015

Ketika Suami Ikutan "Hamil"

Sebelum menikah saya pernah membaca tentang seorang suami yang mengalami morning sickness ketika istrinya hamil, lucunya sang istri sendiri malah gak merasa mual-mual sama sekali. Bagi saya cerita itu lucu dan aneh, makanya saya inget. Tapi gak pernah terpikirkan bahwa hal yang mirip akan terjadi pada suami saya.

Kehamilan Empatik

Yes, laki-laki juga bisa hamil lho. Tapi bukan hamil beneran, hanya kehamilan empatik. Artinya dia merasakan gejala kehamilan seperti halnya perempuan walaupun gak ada janin dalam perutnya – orang rahim aja gak punya, hehe.

Kehamilan empatik ini dialami oleh sebagian suami dengan gejala yang beda-beda. Ada yang mual-mual walau istrinya gak mual. Ada juga yang seperti suami saya, dia memimik apa yang saya rasakan.

Saya mual dia mual, saya gak enak badan dia juga, bahkan saya kram dia ikutan kram. Untung pas saya pendarahan dia gak ikutan pendarahan juga. Ketika mual-mual saya masih parah di trisemester pertama suami juga mual sampai gak sanggup pergi kuliah dan bed rest bareng saya. Kita berdua tergeletak di tempat tidur, lemas. Untunglah dia gak sampai muntah-muntah, cuma mual-mual dan pusing aja. Ohya, yang lebih ajaib lagi pas saya bed rest di rumah ummi saya di kampung dan suami tetap di Tangsel dia tetep ketularan gejala hamil saya. Sempet terlintas dalam kepala jangan-jangan kami sebenarnya adalah saudara kembar! Haha, mustahil. Inimah sinetron mode: ON. Lucunya dia malah bilang “Kamu kok ngikutin saya sih?” Lah… kebalik kaliiii.

Untungnya gejala ini hilang timbul di diri suami. Kebayang kalau dia bener-bener seperti saya yang secara konsisten selama kurang lebih tiga bulan mual-muntah. Bakal kacau dunia persilatan, kerjaan suami bakal gak beres. Dan gak bakal ada yang bisa ngurus rumah (nyuci piring, nyuci baju dll), karena saya harus total bed rest.

Suami bersama anak jalanan


The Culprits

Menurut buku "What to Expect When You’re Expecting" kehamilan empatik pada suami ini sepenuhnya normal, bukan sesuatu yang aneh. Sebagian laki-laki yang tidak membicarakannya, bukan berarti mereka tidak mengalaminya. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan ini terjadi.

Pertama, psikologis. Rasa kasih sayang seorang suami terhadap istrinya bisa membuat alam bawah sadar memerintahkan tubuh untuk mengalami hal yang mirip dengan gejala kehamilan istri. Makanya gejala kehamilan yang dialami laki-laki ini dinamakan kehamilan empatik/ gejala simpati. Saya jadi ingat lirik lagunya Joy Tobing “Semua… karena cinta”. #Uhuk

Selain itu bisa juga disebabkan oleh kegelisahan dicampur dengan perasaan excited akan menjadi ayah. Jadi ketika menyaksikan istri hamil, perasaan ini juga membuat sang suami merasakan gejala kehamilan juga.

Kedua adalah faktor hormonal. Percaya gak sih bahwa bukan hanya hormon perempuan yang bergejolak ketika dia hamil, namun hormon suami juga ikut bergejolak. Percaya gak percaya, penelitian menunjukkan hal demikian.

Jadi, laki-laki memiliki hormon perempuan yang bernama estradinol dalam jumlah yang sangaaat sedikit dalam tubuhnya. Nah, hormon ini meningkat ketika sang istri hamil. Peningkatan jumlah hormon ini membuat intsting atau naluri kebapakan laki-laki menguat. Sehingga laki-laki akan siap menghadapi tangisan bayi, mengganti popok dan lainnya.

Ohya hormon ini juga bisa membuat perut seorang suami agak membuncit dan berat badannya naik sedikit. Tapi tenang aja, ketika istri melahirkan perut buncitnya juga akan berangsur-angsur kempes.

Subhanallah, luar biasa bagaimana Allah yang maha pengatur menciptakan hal ini. Walau tidak ada kabel penghubung antara tubuh istri dan suami tapi Allah membuat kondisi fisik istri berpengaruh pada fisik suami. Amazing, right?

Berdamai Dengan Kehamilan Empatik

Setiap suami tentunya mengalami tingkatan kehamilan empatik yang beda-beda. Jika tidak menganggu ya, let it be. Itu alami dan normal. Namun, kalau sudah menggangu seperti kasus suami saya yang sampai sempet ikutan bed rest juga, hal ini bisa dilakukan:

Ngobrol. Katakan pada suami bahwa kita baik-baik saja dan dia tidak perlu terlalu khawatir. Pas trisemester pertama saya bilang ke suami gini, “Mas, saya tahu kamu sayang sama saya. Tapi kamu yang sehat ya, itu akan lebih membantu saya saat-saat ini. Saya lebih tenang kalau kamu sehat.” Dan kalimat-kalimat lainnya yang gak perlu ditulis di sini (nanti pada muntah pelangi, huehe). Besoknya suami gak mual-mual lagi. Wow. Tapi ya gitu, gejalanya masih hilang timbul walau gak separah pas di awal saya hamil. Inget, faktor penyebabnya bukan hanya psikologis tapi juga hormonal. Ketika faktor psikologis bisa diatasi masih ada faktor hormonalnya.

Sebenernya saya sering merasa lucu sih, dan sering ngetawain suami pas lagi kumat. Misalnya pas dia ketularan kram, saya terkekeh kekeh ngeliat ekspresinya.

Lalu, gimana kalau suami gak mengalami sedikit pun gejala kehamilan empatik? Apakah dia gak cinta? Apakah naluri kebapakannya gak ada?

Tenang… tenang… ketika suami tidak mengalami gejala kehamilan empatik kita tidak bisa menuduhnya tidak cinta atau tidak punya naluri kebapakan. Ingat, setiap tubuh manusia itu berbeda. Bagaimana alam bawah sadar merespon sesuatu, bagaimana tubuh merespon perubahan hormon itu berbeda antara satu orang dengan orang lainnya.

Ibu hamil aja ada yang gak mual-muntah sama sekali kan? Atau tidak mengalami gejala kehamilan lainnya yang umum terjadi. Ibu-ibu tersebut tentunya tetep punya naluri keibuan terhadap anaknya dan tetep jadi ibu yang baik. Setiap kehamilan berbeda, dan setiap suami berbeda pula meresponnya.

Bisa juga, suami gak sadar mengalami gejala kehamilan empatik. Misal, dia pikir dia masuk angin sehingga mual-mual atau dia pikir kebanyakan makan sehingga jadi buncit padahal ada faktor hormon juga di dalamnya.

Hal yang terpenting, baik mengalami gejala kehamilan empatik atau tidak setiap suami wajib jadi suami siaga. Enjoy your pregnancy, moms!



Wednesday, August 19, 2015

Menjalani Pemeriksaan Rontgen Ketika Hamil

Berikut ini ada dua artikel terpercaya yang menjelaskan apa yang harus dilakukan ketika menjalani pemeriksaan rontgen ketika hamil dan seberapa bahaya hal tersebut jika dilakukan.

Menjalani Pemeriksaan Rontgen Ketika Hamil

Pemeriksaan gigi dengan sinar rontgen (atau pemeriksaan rontgen lainnya atau CT scan) biasanya ditunda hingga setelah melahirkan, sekadar untuk berjaga-jaga. Akan tetapi, jika menunda pemeriksaan rontgen menimbulkan resiko yang lebih besar dibandingkan dengan jika hal iitu dilakukan saat ini, sebagian besar dokter dan bidan akan mengizinkan Anda untuk menjalaninya Risiko penggunaan sinar rontgen pada wanita hamil sangat rendah. Sinar rontgen untuk pemeriksaan gigi diarahkan ke mulut, tentu saja, sehingga Rahim Anda berada cukup jauh dari sinar tersebut. Dosis sinar rontgen yang digunakan pun biasanya kecil. Bahaya terhadap janin hanya terjadi pada dosis yang sangat tinggi sehingga perlu dihindari. Namun, jika anda perlu menjalani pemeriksaan rontgen ketika hamil, ingatlah panduan berikut ini.

  1. Jangan lupa menyampaikan kepada dokter yang meminta Anda menjalani pemeriksaan rontgen dan operator yang menjalankan pemeriksaan bahwa Anda sedang hamil, walaupun Anda yakinmereka sudah mengetahuinya.
  2. Jalani pemeriksaan di tempat yang memiliki izin resmi dan operator yang terlatih
  3. Jika memungkinkan, perlengkapan sinar rontgen sebaiknya diarahkan sedemikian rupa hingga bagian tubuh lain yang tidak hendak diperiksa hanya terkena sinar sesedikit mungkin. Kenakan plindung khusus untuk menutupi rahim dan leher Anda.
  4. Ikutilah petunjuk operator dengan cermat dan jangan bergerak saat melakukan pemotretan sehingga pemotretan tidak perlu diulang.
Jika pernah menjalani pemeriksaan dengan sinar rontgen sebelum Anda mengetahui bahwa Anda hamil, tidak perlu cemas.

Sumber: What to Expect When You’re Expecting (Kitab Hamil Terlengkap Sebelum, Selama dan Setelah Melahirkan) oleh Heidi Murkoff dan Sharon Mazel. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Qanita.

A must have book

Apakah Aman Menjalani X-Ray Ketika Hamil?


Hal ini tergantung tipe X-ray yang Anda butuhkan dan seberapa banyak tepatnya radiasi yang akan terpajan pada diri Anda. Semakin tinggi level radiasi, semakin besar resiko terhadap bayi Anda. Mayoritas X-ray, seperti X-ray gigi, tidak akan memberikan bayi Anda radiasi cukup tinggi sampai menimbulkan masalah.

Kekuatan X-ray diukur dengan satuan Rad. Rad adalah unit yang menunjukkan seberapa banyak radiasi yang diserap oleh tubuh. Janin yang terpajan lebih dari 10 rad telah terbukti meningkatkan resiko terkait kemampuan belajar dan masalah pada mata. Namun Anda tidak perlu khawatir. Mayoritas X-Ray lebih lemah dari ini. Jarang ditemukan X-ray lebih kuat dari 5 rad.

Sebagai contoh, jumlah radiasi yang akan janin Anda dapatkan jika Anda menjalani X-ray gigi hanya 0.01 millirad. Satu rad setara dengan 1.000 millirad, maka Anda butuh 100.000 kali rontgen gigi sampai janin anda mendapatkan hanya satu rad. Ini adalah gambaran untuk jenis X-ray lainnya:
  •      60 millirad untuk X-ray dada
  •      290 millirad untuk X-ray perut
  •      800 millirad untuk computerised tomographic (CT) scan
(walaupun begitu, sangat kecil kemungkinan Anda ditawari salah satu dari X-ray ini jika anda hamil)


Sebagai perbandingan, selama hamil janin Anda terpajan sekitar 100 millirad dari radiasi alami matahari dan bumi.


Walaupun resiko dari X-ray rendah, dokter Anda mungkin akan menyarankan untuk menunda X-ray yang tidak perlu sampai bayi anda lahir. Jika dokter anda merasa X-ray diperlukan karena situasi medis tertentu, jangan khawatir. Jumlah radiasi yang akan diterima oleh bayi Anda pada umumnya berada dalam rentang yang aman. Pada hari pemeriksaan pastikan radiographer mengetahui bahwa anda hamil sehingga dia dapat memberikan perlindungan yang dibutuhkan bagi Anda.


Jika anda berada di sekitar radiasi saat bekerja, bicaralah pada boss Anda terkait mengurangi atau mengihangkan resiko terpajan. Anda mungkin perlu untuk mendiskusikan memakai sabuk film yang memonitor jumlah radiasi yang anda terima. Sabuk ini dapat dicek secara berkala untuk memastikan bahwa anda dan bayi anda Aman.

Jika anda menerima radiasi untuk terapi kanker sebelum mengetahui bahwa anda hamil, bicaralah pada onkologis tentang jumlah radiasi yang mungkin janin Anda telah terima.


Sumber: Saya terjemahkan artikel di atas dari Baby Center Australia. Artikel yang sama juga dimuat di Baby Center UK.

Kasus Saya

Dari baca-baca artikel saya mestinya tidak perlu khawatir lagi jika dosis x-ray kemarin hanya 5 rad. Tapi, katanya saya 50 rad (cerita selengkapnya di sini). Syok dong, perkiraan pajanan pada artikel di atas jadi tidak berlaku. Fyi, pemeriksaan yang saya lakukan saat itu cukup banyak: CT Scan, Foto kepala samping, depan, dan foto dada.

Saya cuma berharap petugasnya salah ngomong (seperti ketika dia bilang kalau sudah bertanya saya hamil atau tidak), atau suami saya yang salah dengar. Karena, umumnya foto x-ray jarang sekali di atas 5 rad. Yah, semoga saja hanya 5 rad, bukan 50 rad.

Mohon doanya ya, untuk teman-teman yang membaca blogpost ini. Saya masih menaruh harapan semuanya baik-baik saja. Amiin.

Cerita Trisemester Pertama: USG

Kadang, ketika nasib terlihat buruk saya berfikir bahwa Allah marah. Apalagi kejadiannya setelah saya kesel sama suami. Tapi suami bilang, “Enggak, kamu kan marahnya karena Allah juga.”

Kita tidak pernah tahu sebenarnya. Sebagai hamba yang kita bisa lakukan adalah berprasangka baik pada Allah, bahwa semua kejadian ini karena Allah sedang mendidik kita untuk menjadi individu yang lebih baik. Dan pasti ada kemudahan-kemudahan setelah kesulitan.

Seumur hidup saya gak pernah kecelakaan motor, juga gak pernah celaka gara-gara pakai jilbab (abaya) lebar. Sekalinya kejadian pas ketika saya sedang hamil, luar biasa sekenario Allah untuk hamba-Nya. Pahit manis bisa datang disaat yang sama.

Abaya milik ummi, yang saya pakai ketika kecelakaan motor persis seperti ini. Baju ini oleh-oleh dari ummi ketika pulang haji beberapa tahun yang lalu. Sekarang punya saya sudah hancur, digunting dari pinggang sampai bawah.
Selain itu, hal ini memberikan banyak pelajaran bagi kami berdua dan mungkin untuk kita semua. Pertama, pakai helm ketika bermotor. Kadang muslimah berhijab males pakai helm karena bikin kerudungnya berantakan, tapi kerudung berantakan itu masalah yang sepele dibandingkan kalau jatuh terbentur aspal lalu otak berantakan (amit-amit nauzubillah).

Kedua, bagi muslimah yang berbaju lebar lebih baik duduk ngangkang (cangegang, ceuk orang Sunda mah), posisi ini lebih stabil ketika dibonceng dan lebih kecil kemungkinannya baju masuk ke jari-jari motor, tentunya pakai celana panjang longgar di dalam baju biar bentuk betisnya tidak terlihat jika baju agak terangkat.

Ketiga, hindari naik motor ketika lelah. Hal terakhir ini bukan hanya berlaku bagi yang membonceng tapi juga yang dibonceng, karena berbahaya sekali ngantuk ketika dibonceng motor. Seandainya konsentrasi saya penuh saat itu, saya pasti megang baju saya supaya tidak berkibar-kibar.
Semoga kita semua selalu aman dalam berkendara ya. Amiiin.

***

Nah, ini lanjutan cerita saya kemarin. Bagi yang belum baca kisah sebelumnya, silakan baca di sini: Cerita Trisemester Pertama: Test Pack

Saturday, August 15, 2015

Cerita Trisemester Pertama: Test Pack

Dulu saya pikir kalau suatu hari test pack saya bergaris dua maka saya akan jingkrak-jingkrak, membungkus test pack itu di kertas kado sebagai hadiah kejutan untuk suami. Nyatanya, ketika dua garis itu muncul tanggal 31 Mei yang lalu saya ketakutan setengah mati. Sebagian hati saya merasa lega karena akhirnya bisa hamil dengan proses alami setelah tiga tahun tiga bulan menikah, alhamdulillah. Setengah hati lagi merasa hancur karena – saat itu – saya pikir kehamilan ini harus saya relakan. Lega dan kecewa, senang juga takut, ambivalen. Mata saya berair di kamar mandi (dan saat menulis ini pun saya menangis lagi hehe). Ketika saya beri tahu suamipun (tanpa kertas kado) saya lupa ekspresinya karena terlalu sibuk dengan pikiran sendiri.

Sunday, November 30, 2014

KitKat Cake - Evaluasi

Saya suka sama Tash Shan, peserta MasterChef AU season 6. Mungkin keberpihakan saya ke dia karena dia juga blogger, jadi kita berada dalam satu blogoshphere hehe. Seneng aja nemu ada kontestan MasterChef yang juga blogger. Belakangan saya lebih banyak belajar masak dari food blogger. Tapi, cuma food blogger original yang resepnya tweaking atau nyiptain sendiri, bukan blog-blog yang copy paste sana sini, nyuri resep dan foto makanan orang tanpa izin. Banyak blog makanan yang begini, udah saya black list mereka dari daftar kunjungan.

Nah, pas lagi stalking blognya Tash saya nemu postingan yang judulnya Chocolate Overload: Giant KitKat and M&M Cake. Fotonya menggiurkan banget!

Kebetulan saya emang pengen nyoba bikin cake. Kebetulan lagi, bulan November ada banyak event yang bisa dirayakan. Adik ipar ulang tahun, saya ulang tahun, suami ulang tahun dan mertua ulang tahun pernikahan. Semuanya di akhir November. Tinggal pilih mau pakai momen yang mana.
Akhirnya saya milih momen ulang tahunnya adik ipar. Singkat cerita jadilah kue ini:

Pitanya dari alumunium KitKat :p


Gimana rasanya?

Ada seorang tetangga saya yang bilang “enak bangeeet”. Tapi suami dan mertua komentarnya “manis bangeeet”, dan saya pun berpendapat demikian. Bayangin aja bolunya coklat, ganache-nya coklat lalu dilapisi Kitkat dan coklat M&M yang juga manis. Duh, membayangkannya aja udah terasa manis di lidah. Ini cocok bagi yang suka coklat dan manis. J

Kata suami lain kali bikin sponge cake pandan aja yang gak terlalu manis. Oke deh, itu akan masuk daftar rencana masak saya.

Evaluasi

Sebelum bikin kue lagi, ada beberapa hal yang mesti saya evaluasi dalam pembuatan KitKat Cake ini. Biar kedepannya bisa lebih oke lagi hasilnya. Ini dia evaluasi saya:

1. Baca resep dengan teliti. Dalam pembuatan cake, kuncinya itu ditakaran. Apalagi kalau pemula dan belum bisa tweaking (mengembangkan) resep sendiri, belum ngerti perbandingan-perbandingan bahan. Saya baca resep Tash beberapa kali tapi tetep aja ada 2 hal yang terlewat.

·         Pertama, jumlah butter yang dibutuhkan. Saya beli butter dua bar yang masing-masing beratnya 227gr jadi totalnya 454gr. Padahal yang dibutuhkan adalah 255gr (untuk bolu) + 225gr (untuk ganache) = 477gr. Entah kenapa pas belanja yang saya inget adalah 225gr + 225gr. Terus, pas di rumah adik ipar bikin potato stuffed pakai mentega yang saya beli… makin berkurang deh menteganya. Tapi saya gak beli lagi karena mahal, jadi kekurangannya ditutupi pakai margarin hehe…
·         Hal kedua yang terlewatkan adalah loyang. Saya menyepelekan urusan loyang dan cuma baca selintas petunjuk tentang loyangnya.
Karena ini percobaan yang pertama jadi saya juga mesti beli loyang, saya beli satu loyang ukuran 22cm. Ternyata pas sampai di rumah dan baca lagi resepnya  yang dibutuhkan adalah DUA loyang ukurang 9 inch. Karena saya cuman punya satu jadilah proses masak jadi lebih lama. Mestinya bisa manggang sekali dua, jadi satu-satu.Waktu belanja bahan saya bawa catatan lho… tapi karena pas baca gak hati-hati jadi catatannya pun salah. 
Gak habis dimakan sendiri, mesti bagi-bagi tetangga

2. Kualitas peralatan. Dalam resep, kue ini cukup dipanggang 40 menit dengan suhu 180C, ditambah persiapan 60 menit, mestinya dalam waktu sekitar 2 jam kue ini sudah selesai. Realitanya saya bikin kue dari pagi sampai malem… Kok bisaaa? Selain saya dua kali memanggang karena cuman punya satu loyang, kualitas loyang saya juga gak bagus. Saya beli loyang kaleng yang harganya di bawah 20 ribu. Saya gak mau beli yang mahal karena ngerasa masih pemula. Padahal loyang yang bagus itu menyimpan panas dengan lebih efektif, merata dan tidak lengket. Jadi, proses memanggang lebih singkat dan bolu keluar dari loyang dengan indah.

Tash pasti pakai loyang bagus makanya cuma butuh waktu 40 menit. Saya butuh waktu 75 menit untuk mematangkan satu bolu. Dua kali manggang jadinya 2,5 jam. Aih.. sayang gasnya. O ya, oven yang saya pakai juga oven tua yang pengaturan panasnya udah agak diragukan hehe. Tapi saya gak akan ngeluh masalah oven, karena performanya masih terkategori baik dan saya belum mampu beli oven sendiri (ini minjem punya mertua).

Terakhir, mixer. Saya pakai mixer kecil dan dengan bahan sebanyak adonan kue ini, miksernya penuh banget. Nyaris tumpah. Adonannya kental dan bikin waktu ngaduknya semakin lama. Saya sampai perlu ngaduk manual, karena setelah cukup lama gak tercampur dengan rata juga terutama adonan di bagian bawah.
Mixer generasi terbaru

Bagian ini cukup menyenangkan karena adonan mentahnya enak banget, rasa puding coklat. Saya bolak balik masukin jari ke adonan dan ngejilatin. Menurut saya dari seluruh kue best part-nya itu adonannya. Pas manggang saya baru inget kalau adonan itu mengandung banyak telur mentah. Duh, moga saya gak terinfeksi bakteri salmonella.

Kalau mau serius untuk belajar baking, mesti nabung supaya bisa beli peralatan masak yang berkualitas dan awet.

3. Kesabaran. Ketika bikin ganache, intruksinya adalah mengaduk gula dan telur sampai gulanya larut. Saya pakai mikser dan setelah beberapa lama gulanya gak larut-larut. Saya gak sabar, saya pikir nanti juga larut kalau dimasukin coklat panas. Ketika coklat dimasukin gulanya malah tambah susah larut.

Saya juga mencairkan coklatnya gak pakai double boiler, tapi langsung di panci (biar lebih cepat) jadi coklatnya malah hampir gosong dan kering.

Saya memasukkan mentega (dan tambahan margarin) pun ketika adonan belum benar-benar dingin. Jadi hasilnya tidak sekental seharusnya (walaupun gak ruiny). Bagian ganache ini yang paling gagal menurut saya. Ganache buatan saya tidak kental dan ada butiran gulanya. Rasanya pun manis banget. Kalau saya bikin kue ini lagi, saya akan menghilangkan gulanya. Karena dark chocolate itu udah ada rasa manisnya, dan mempertahankan sedikit rasa pahit coklat akan menjadi penyeimbang hiasan KitKatnya yang manis.

4. Overthinking yang gak perlu. Dalam proses pembuatan kue ini saya paling khawatir sama panjang KitKat. Karena di foto Tash KitKatnya terlihat panjang, sementara yang saya lihat di supermarket terlihat pendek. Saya takut panjang KitKatnya tidak mencukupi. Padahal, panjang Kitkat dimana-mana kurang lebih sama: satu finger itu kira-kira sepanjang jari telunjuk orang dewasa. Panjang ini hampir sama seperti tinggi loyang rata-rata. Padahal lagi, kalau bolunya ketinggian pun tinggal di trim aja sesuai kebutuhan.

Yah, begitulah evaluasi dari saya. Berharap suatu saat nanti bisa bikin perfect cake. Sekarang mau nabung dulu biar kebeli loyang yang bagus. J







Tuesday, November 25, 2014

Hari Lahir

Saya lahir hari Jumat, 25 November 1988 di RS Borromeus, Bandung. Saya lahir normal dan en caul, alias lahir utuh dengan ketubannya. Suster memecahkan ketuban yang melindungi saya setelah saya lahir. Dicubit kata ummi. Setelah ketuban dipecahkan baru deh saya nangis. Kasus en caul hanya terjadi sekitar 1 dari 80.000 kelahiran (kata google). Cukup langka walau gak langka-langka amat (mengingat tiap tahun ada jutaan bayi baru yang lahir). Biasanya ini terjadi pada bayi yang badannya kecil atau prematur. Dalam kasus saya, saya lahir sudah cukup umur cuma badannya memang kecil, 2800 gr saja. Sampai saya menulis ini saya masih heran… kok bisa ya gak pecah ketubannya ketika melewati jalan yang sempit itu, elastis sekali!
Yai, Nyai, Abah, Ummi dan Saya

Bulan November 26 tahun yang lalu sama seperti November di tahun lainnya, musim hujan. Ditambah saat itu keluarga kecil kami tinggal di daerah Bandung utara. Dingiiiin. Lebih dingin dari pada Bandung sekarang. Waktu itu Bandung belum macet, belum banyak polusi, belum banyak mall. Di sekitar rumah kontrakan kami cuma kebun, kalau malam yang terdengar suara jangkrik dan binatang-binatang lain.
Karena dingin saya jadi sering nangis, sering minta nenen, sering ngompol. Popok bertumpuk. Saat itu belum ada diapers dan belum umum mesin cuci. Cucian popok pun susah kering karena gak ada matahari. Jadi abah pakai kandang ayam (yang bersih) di tengahnya di pasang petromak, lalu popok saya di taruh di sekitarnya. Mesin pengering home made.
[Ibu-ibu abad 21 bersyukurlah di zaman kalian udah ada diapers dan mesin cuci dengan pengering elektronik! :p]
Musim hujan bukan bearti saya gak mandi. Menurut penuturan ummi, abah sering mandiin saya. Dan berlama-lama mandiin saya sampai saya menjerit-jerit kedinginan. Belum puas main air dengan anak pertamanya abah juga berlama-lama memakaikan saya baju. Sambil diajak ngobrol lah, sambil nyanyi lah. Sampai dimarahin ummi supaya cepet-cepet dibajuin dan saya berhenti nangis kedinginan. Kata ummi, abah tuh kesenengan dapet anak. Jadi diajak main terus. Saya memang anak pertama, tapi bukan dari kehamilan pertama. Jadi kehadiran saya memang sudah sangat dinantikan, hoho.
Btw, ummi sendiri di awal-awal gak mau memandikan saya karena gak berani, takut tenggelam atau atau keseleo bayinya. 
Tapi kejadian saya mandi berlama-lama ini masih kalah epic sama kejadian kayu putih tumpah. Jaman dulu kayu putih itu botolnya kaca, bukan plastik seperti sekarang. Suatu hari, satu botol pecah. Karena lebar (bahasa Sunda, artinya sayang atau mubazir), jadi ummi mengoleskan minyak tumpahannya ke badan saya. Kebanyakan, melepuhlah perut saya. Lalu panik lah orang-orang di dunia kecil itu.
Sepertinya heboh sekali pasangan suami istri muda ini. Ckck…

Karena ummi KB, beliau baru hamil lagi setelah saya berumur 4 tahun. Waktu itu saya ditanya, “Frida pengen punya adik berapa?” Saya jawab “sepuluh” sambil menunjukkan sepuluh jari saya. Saya inget kejadian ini, waktu itu ummi nanyanya pas lagi hamil besar Faizal ketika kami sedang jalan bareng menuju pasar ikan di Tanjung Balai Asahan, Sumatra Utara. Ummi juga inget kejadian ini dan masih suka becandain saya pakai cerita ini.
Alhamdulillah, Allah ngasih saya adik empat. 
Ummi itu sering banget cerita dan mengungkit-ungkit proses kelahiran setiap anaknya. Tentang saya yang lahir dengan ketuban lah, Faizal yang divakum dan lahir pas malem takbiran, Faizah yang sungsang dan lahir pas Jum’atan, Fuad yang gampang brojolnya tapi abah gak ada karena lagi sokolah di Adelaide, dan Fauzi yang selamat dari percobaan aborsi tapi malah jadi bayi paling gede dan sehat (4kg!).
Setiap kelahiran itu unik, bagaimanapun caranya setiap anak keluar dari rahim ibunya pasti bagi sang ibu itu spesial dan akan dikenang seumur hidupnya. Seperti ummi yang selalu mengenang setiap prosesi melahirkannya.
Jadi yang lebih layak diberikan selamat di hari ini itu ummi dan abah. Selamat ya ummi, abah sudah 26 tahun anak pertamamu hidup dan sehat. Semuanya gak lepas dari izin Allah swt melalui tangan-tangan kalian.


Ummi dan anak-anaknya yang sudah besar